Upacara Adat “Thethek Melek” Kembali Digelar di Sukoharjo Pacitan, Ritual Tolak Pageblug dan Penguat Solidaritas Warga


 

Upacara Adat “Thethek Melek” Kembali Digelar di Sukoharjo Pacitan, Ritual Tolak Pageblug dan Penguat Solidaritas Warga

PACITAN, Lidikinvestigasi.com – Upacara adat Thethek Melek, ritual tradisi leluhur yang sarat nilai spiritual dan sosial, kembali digelar di Desa Sukoharjo, Kabupaten Pacitan. Ritual ini dipercaya masyarakat setempat sebagai ikhtiar budaya untuk menolak pageblug atau wabah, sekaligus mempererat kembali ikatan sosial antarwarga yang sempat merenggang akibat perubahan zaman dan situasi pascapandemi.

Upacara adat Thethek Melek berangkat dari kisah masa lalu ketika Desa Sukoharjo dan wilayah sekitarnya dilanda pageblug berkepanjangan berupa gagal panen. Kondisi tersebut berdampak serius terhadap kehidupan masyarakat yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani dan buruh tani. Krisis pangan, meningkatnya penyakit, hingga tekanan psikologis warga menjadi gambaran kelam saat itu.

Konon, seorang tokoh masyarakat yang hingga kini tidak ingin disebutkan namanya menggagas sebuah ritual spiritual sebagai bentuk permohonan keselamatan kepada Sang Pencipta. Ritual tersebut dilakukan dengan berkeliling kampung dan area persawahan sambil membawa uborampe berupa tumpeng dan sesaji, disertai pembacaan mantra dan doa.

Menariknya, ritual tersebut berkembang menjadi peristiwa sosial yang melibatkan hampir seluruh warga desa. Masyarakat yang melihat prosesi ikut bergabung sambil membawa peralatan pertanian seperti cangkul, sabit, ember, hingga linggis yang kemudian dibunyikan bersama-sama. Suara riuh inilah yang menjadi ciri khas Thethek Melek, simbol kebersamaan sekaligus pengusiran bala.

Rombongan ritual berhenti di area persawahan saat waktu senja. Di tempat tersebut, doa dipanjatkan untuk memohon keselamatan, perlindungan, dan diangkatnya pageblug. Sejak saat itu, masyarakat meyakini kondisi desa berangsur pulih. Penyakit berkurang dan hasil panen mulai membaik.

Paguyuban seni dan budaya Song Meri kemudian menggagas revitalisasi ritual Thethek Melek sebagai refleksi terhadap kondisi kekinian. Ketua paguyuban menyampaikan bahwa ritual ini tidak semata-mata dimaknai secara spiritual, tetapi juga sebagai sarana membangun kembali kesadaran sosial dan ekologis masyarakat.

“Di tengah kemajuan teknologi, interaksi sosial masyarakat semakin berkurang. Melalui ritual ini kami ingin menghadirkan kembali ruang perjumpaan, gotong royong, dan kearifan lokal yang diwariskan leluhur,” ujarnya.


Ritual Thethek Melek dikemas dalam rangkaian kegiatan bertajuk Upacara Suwukan Pari, yang dipadukan dengan pesta seni rakyat. Berbagai potensi seni lokal Desa Sukoharjo dan Kabupaten Pacitan ditampilkan, serta membuka ruang interaksi dengan seniman nasional dan internasional. Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi daya tarik wisata budaya dan agraris yang unik.

Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji hadir langsung sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut. Ia mengapresiasi upaya masyarakat dan komunitas seni dalam melestarikan tradisi budaya sebagai bagian dari identitas daerah.

“Tradisi seperti Thethek Melek adalah warisan budaya yang tidak hanya mengandung nilai spiritual, tetapi juga nilai sosial, pendidikan, dan kebersamaan. Ini penting untuk terus dirawat agar generasi muda memahami akar budayanya,” ujar Bupati.

Lebih lanjut, Bupati Pacitan menilai kegiatan ini sejalan dengan upaya pembangunan berbasis budaya dan pariwisata berkelanjutan yang tengah dikembangkan pemerintah daerah.

Secara esensial, tujuan utama kegiatan Thethek Melek adalah memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, menghilangkan wabah penyakit, mempererat silaturahmi warga, serta menghidupkan kembali ruang sosial dan seni di tengah masyarakat. Manfaat jangka panjangnya diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan sosial-ekonomi warga melalui pengembangan wisata budaya dan pertanian.

Kegiatan Thethek Melek dilaksanakan pada Senin–Selasa, 29–30 Agustus 2022, bertempat di area persawahan Dusun Rejoso, Desa Sukoharjo, Kabupaten Pacitan, mulai pukul 14.00 WIB hingga selesai.

Dengan kolaborasi antara masyarakat, seniman, dan pemerintah daerah, ritual adat Thethek Melek diharapkan terus hidup sebagai simbol keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta di tengah tantangan zaman modern. (Red*/setyo)