Tradisi Siraman Sedudo Meriah, Ribuan Pengunjung Padati Air Terjun di Bulan Suro

Tradisi Siraman Sedudo Nganjuk

Tradisi Siraman Sedudo Meriah, Ribuan Pengunjung Padati Air Terjun di Bulan Suro

Nganjuk,Lidikinvestigasi.com– Suasana meriah menyelimuti kawasan Air Terjun Sedudo di Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, saat pelaksanaan tradisi tahunan Siraman Sedudo pada Bulan Suro, Kamis (17/07/2025). Ribuan pengunjung dari berbagai daerah memadati lokasi untuk menyaksikan prosesi budaya yang dipercaya membawa berkah dan keselamatan. Udara sejuk pegunungan, suara gemericik air terjun setinggi 105 meter, serta aroma dupa dan bunga yang semerbak, menambah khidmat acara ini.


Tradisi Siraman Sedudo telah diwariskan secara turun-temurun sejak masa Kerajaan Majapahit. Berdasarkan cerita rakyat, Air Terjun Sedudo diyakini sebagai tempat peristirahatan para bangsawan dan tokoh spiritual pada zaman dahulu. Prosesi siraman pada bulan Suro dilakukan sebagai simbol penyucian diri, menolak bala, serta memohon keselamatan hidup.
Bagi masyarakat setempat, air yang mengalir dari Sedudo dipercaya mengandung tuah untuk kesehatan, awet muda, dan kelancaran rezeki. Seiring berjalannya waktu, acara ini juga menjadi daya tarik wisata budaya yang mempertemukan warga lokal, perantau, hingga turis mancanegara.


Wisata Air Terjun Sedudo Bulan Suro
Acara dimulai pada pagi hari dengan pembacaan doa bersama yang dipimpin tokoh adat. Kemudian, air dari puncak Sedudo diambil menggunakan kendi dan dituangkan ke tempayan besar yang telah disiapkan. Setelah prosesi simbolis oleh pejabat daerah, air tersebut digunakan untuk menyiram patung perwujudan leluhur Sedudo.
Pengunjung yang hadir pun diperbolehkan membasuh muka atau mengambil air untuk dibawa pulang. Selain prosesi utama, acara juga dimeriahkan oleh penampilan seni tradisional seperti jathilan dan reog, bazar kuliner khas Nganjuk, serta pameran kerajinan tangan warga.


Dinas Pariwisata Kabupaten Nganjuk mencatat, acara tahun ini dihadiri lebih dari 5.000 orang. Kehadiran wisatawan membawa berkah bagi pelaku UMKM lokal, mulai dari pedagang makanan, penjual bunga, hingga pengelola homestay di sekitar lokasi. Pemerintah daerah pun terus mendorong agar tradisi ini masuk dalam kalender event wisata Jawa Timur, sehingga promosi dan fasilitas pendukung dapat ditingkatkan.


“Tradisi Siraman Sedudo ini bukan sekadar ritual, tapi momentum kebersamaan warga Nganjuk dan ajang silaturahmi,” ujar Budi Santoso, Kepala Desa Sawahan.

Sementara itu, Rina Wahyuni, wisatawan asal Surabaya, mengaku terkesan dengan keindahan alam dan kekhidmatan prosesi. “Saya sudah tiga kali datang, dan setiap kali suasananya selalu berbeda dan menenangkan,” katanya.


Pengunjung acara budaya Siraman Sedudo
Air Terjun Sedudo berjarak sekitar 30 km dari pusat kota Nganjuk atau 120 km dari Surabaya. Lokasinya dapat dicapai dengan kendaraan pribadi maupun angkutan umum hingga terminal Sawahan, lalu dilanjutkan dengan ojek lokal.
Fasilitas yang tersedia meliputi area parkir, warung makan, toilet umum, dan area foto dengan latar pemandangan air terjun. Bagi pengunjung yang ingin pengalaman maksimal, disarankan datang pagi hari saat kabut tipis masih menyelimuti kawasan.


Tradisi Siraman Sedudo menjadi bukti kekayaan budaya Nusantara yang terus hidup di tengah arus modernisasi. Masyarakat Nganjuk berharap, kegiatan ini tetap dilestarikan dan mendapat dukungan penuh agar manfaatnya tidak hanya dirasakan secara spiritual, tetapi juga mampu mengangkat perekonomian lokal. Bagi pencinta wisata alam dan budaya, Air Terjun Sedudo di Bulan Suro adalah destinasi yang tak boleh dilewatkan. (pgh)